Rabu, 23 Mei 2018

Prajurit dan PNS KOREM 002/PT Ikuti Siraman Rohani Ramadhan

Sumut - Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Korem 022/Pantai Timur mengikuti siraman rohani yang digelar di Mushola Makorem 022/PT, di Jl. Asahan Km 3,5 Pematangsiantar, Selasa (22/05/2018).

Kegiatan keagamaan ini untuk mengisi Bulan Ramadan yang penuh berkah. Tampak hadir para pejabat Korem 022/PT, berbaur dengan prajurit dan PNS Korem 022/PT.

Danrem 022/PT Kolonel Arm Khoirul Hadi SE, megatakan pembinaan mental bagi prajurit dan PNS di Makorem 022/PT, akan dilaksanakan setiap hari setelah melaksanakan apel pagi. "Kegiatan ceramah agama ini, di samping untuk meningkatkan dan memperdalam iman bagi setiap prajurit dan PNS Korem 022/PT, sekaligus untuk mengisi kegiatan selama Bulan Ramadan," kata Danrem.

Selaku Ustaz Kabintal Rem 022/PT Kapten Inf H. Damanik yang memberikan ceramah, mengambil tema tentang cara mengendalikan hawa nafsu di Bulan Ramadan. Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Namun, yang dimaksud sekadar menahan nafsu makan dan minum, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak meng-gîbah, atau aktivitas lain yang bersifat moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian maka sebenarnya telah terjadi penyempitan makna dari menundukkan hawa nafsu itu sendiri. Allah SWT berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran dan al-Hadist) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS an-Najm [53]: 3-4).

Dalam ayat di atas, Allah SWT secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu saling berbeda. Hawa nafsu adalah segala bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas saja, melainkan menyangkut seluruh dorongan ada dalam diri manusia yang mewujud dalam seluruh aktivitas. Sebaliknya, wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah saw. berupa perintah dan larangan. Wahyu ini yang harus mengendalikan hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu manusia tidak dibimbing wahyu, ia akan cenderung pada keburukan.(Rendy)

Komentar

BERITA TERKINI