Rabu, 10 Oktober 2018

Kakek 60 Tahun Ditemukan Tewas Dalam Gubuk Reok

Korban di TKP
Medan - Warga Jalan Kamboja Ujung, kawasan lahan garapan Titi Runtuh, Desa Sampali, digegerkan dengan ditemukan seorang jasad pria lanjut usia (lansia) dari dalam gubuk reok yang ditempatinya, Selasa (9/10) sekira jam 18.00 wib.

Korban yang diketahui bernama, Abdul Karim Nasution (60), ditemukan oleh dua orang warga sudah terbujur kaku dengan posisi telentang dan tanpa busana di dalam gubuk bambu berukuran 4 persegi, tepatnya disebelah Kafe Bambu di lahan Garapan Titi Runtuh. Dua orang warga yang menemukan korban sudah tak bernyawa, lalu melapor kepada Kepling dan diteruskan ke pihak kepolisian.

"Tadi ada dua orang warga yang datang ke rumahnya mau menemui korban dan berencana mau menyewa becak korban, tapi korban ditemukan sudah tergeletak. Kemudian dua orang warga tadi langsung memberitahukannya kepada warga lainnya dan menjumpai Kepling," kata, petugas kepolisian di lokasi diamini warga sekitar.

Saat ditemukan, polisi tak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Sedang dari lokasi tubuh korban terbaring, hanya terlihat pakaian usam tergantung dan kondisi ruangan tamu yang juga sekaligus dijadikan tempat tidur olehnya.

"Kematiannya masih dalam penyelidikan. Namun dugaan karena sakit dan hidup sebatang kara," ujar, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan, saat ditemui di lokasi penemuan mayat, Selasa (9/10) petang.

Sementara menurut beberapa warga, korban diduga tewas baru berkisar beberapa jam dan diduga akibat kelaparan serta sakit tua yang dideritanya. Hal itu terlihat dari kondisi tubuhnya yang kurus dan tempat tinggal yang sangat memprihatinkan. Di gubuk reoknya itu, korban sudah sekitar 1 tahun tinggal seorang diri. Selama tinggal di situ, korban bekerja sebagai penarik betor (becak bermotor)

"Tapi beberapa minggu belakangan ini dia (korban) sudah gak narik becak lagi. Soalnya betornya sudah 2 kali hilang dicuri maling sampai korban melapor ke Polsek. Memang dia tinggal sendiri di gubuk itu, keluarganya kami gak ada yang tau," sebut, Sri (28) warga di lokasi.

Ditambahkan warga lagi, bahwa korban belakangan hari ini memang jarang kelihatan, hingga tak diketahui aktifitasnya.

"Sejak becaknya hilang itulah dia (korban) mulai jarang kelihatan. Tapi sekitar semingguan lalu, korban pernah menemui saya di kafe. Dia minta saya untuk bekerja sebagai penjaga parkir di kafe tempat saya kerja. Tapi saya bilang gak ada karena saya kasihan dia sudah tua. Dia sempat pesan minuman fanta dan mau bayar uang 10 ribu, tapi saya kembalikan uangnya," tutur, wanita yang mengaku bernama, Nani dan sebagai Kapten di kafe Bringin ini di lokasi.

Bahkan beberapa warga disana banyak yang tak mengenal nama korban, namun warga mengenali wajahnya. Hal itu diakui warga karena kurangnya peduli terhadap warga lainnya di kawasan lahan garapan yang banyak terdapat kafe tuak tersebut. "Kami biasa manggilnya kakek aja, kalau namanya gak berapa kali kenal. Yah biasalah bang, kalau disini, banyak yang kurang open," ujar warga lainnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh Kepling setempat, yang tak mengenal korban, lantaran belum ada pemberitahuan pindah dan tinggal di kawasan itu.

"Gimana kita mau kenal, karena gak ada melapor. Seharusnya kan sekitar 2x24 jam harus lapor, ini udah setahun gak ada. Kalau begini kita yang dipanggil-panggil. Yah cemana lah, namanya juga tinggal di lahan garapan," celetuk, Kepling setempat yang sering disapa Pak Lubis.

Guna menunggu adanya pihak keluarga korban, oleh polisi, jasad korban pun dibawa ke RS Bhayangkara Medan, setelah terlebih dahulu dilakukan identifikasi oleh tim Inavis Polrestabes Medan. (Rd)

Komentar

BERITA TERKINI